Kata Pembuka

Om Swastyastu!

Terima kasih Anda telah mengunjungi Pojok Bali.
Blog ini disajikan untuk Anda yang haus informasi
mengenai manusia, alam dan kebudayaan Bali.

Blog ini mengajak Anda untuk menjelajahi
keunikan, kearifan juga sisi gelap Pulau Dewata.

Inilah sajian tentang Bali yang ditulis oleh
orang Bali dari Bali sehingga terasa sangat Bali.

Semoga informasi yang disajikan
dalam Blog ini bermanfaat!


Om Santih, Santih, Santih Om!


Salam dari Denpasar,
I Made Sujaya

Kamis, 2009 Juni 18

Pilih-pilih Hari Baik Bersenggama

SEKS bagi ajaran Hindu adalah sesuatu yang suci. Karenanya, seks mestilah didasari oleh suatu ikatan perkawinan. Hubungan seks dalam bingkai perkawinan pun tidak boleh sembarangan. Jika ingin mendapatkan keturunan yang suputra (berbakti), mestilah memilih hari baik untuk bersenggama. Hari apa saja yang dianggap baik untuk bersenggama?

-----------------------------
TRADISI Bali mengajarkan betapa pentingnya memilih hari baik untuk melakukan hubungan seksual dengan istri atau suami. Berhubungan badan dengan istri pada hari yang baik diyakini akan melahirkan keturunan yang baik pula.
Sri Reshi Ananada Kusuma dalam buku Prembon Bali Agung menyebut ada tiga hari baik untuk melakukan hubungan suami-istri. Ketiga hari baik yakni Senin Umanis, Rabu Pon dan Jumat Pon. Ketiga hari tersebut, menurut Sri Resi, diperkenankan oleh Dewa Asmara. Tidak ada penjelasan yang memadai mengapa ketiga hari tersebut dianggap baik.
Dalam Manawa Dharmasastra disebutkan lebih rinci mengenai hari-hari baik melakukan hubungan seksual. Dasar perhitungannya yakni hari menstruasi atau datang bulan sang istri. Saat yang baik berhubungan badan yakni malam hari.
Seperti dikutip Ida Bagus Wijaya Kusuma dalam buku Resep "Membuat" Anak Laki-Perempuan, ada 14 hari baik untuk melakukan hubungan seksual dengan istri dalam sebulan. Hari baik itu mulai hari ke empat hingga hari ke tujuh belas setelah istri menstruasi.
Namun, 14 hari baik untuk melakukan hubungan seksual itu masih diberi catatan tentang akibat yang akan ditimbulkannya yakni karakter anak yang dilahirkan. Jika bersenggama pada hari ke empat setelah menstruasi, diyakini akan lahir anak laki-laki tetapi pendek umurnya. Bila bersenggama pada hari ke lima, akan lahir anak wanita dengan umur yang pendek.
Senggama yang dilakukan pada hari ke enam, disebutkan akan melahirkan anak laki-laki tetapi bodoh. Jika senggama dilakukan pada hari ke tujuh, yang lahir anak wanita, bodoh dan tidak berketurunan.
Apabila berhubungan seksual dengan istri pada hari ke delapan akan lahir anak laki-laki dengan sifat berkuasa. Sementara jika bersenggama padahari ke sembilan akan lahir anak wanita yang suci sifatnya.
Persenggamaan yang terjadi pada hari ke sepuluh akan melahirkan anak laki-laki yang bijaksana sifatnya. Jika hubungan badan dilaksanakan pada hari ke sebelas akan lahir anak wanita yang antiagama.
Jika hubungan suami-istri terjadi pada hari ke dua belas akan lahir anak laki-laki yang baik sifatnya. Sebaliknya, apabila berhubungan badan pada hari ke tiga belas akan lahir anak wanita yang tidak baik sifatnya.
Hubungan seksual dengan istri pada hari ke empat belas akan membuahkan anak laki-laki yang teguh imannya, mulia, hormat pada orang tua dan setia. Sementara senggama yang dilakukan pada hari ke lima belas akan melahirkan anak wanita yang banyak anak.
Jika berhubungan badan dengan istri pada hari ke enam belas akan lahir anak laki yang bijaksana, pandai jujur, suci dan menjadi pelindung manusia pada umumnya. Sementara jika bersenggama pada hari ke tujuh belas akan lahir anak wanita yang banyak anaknya.
Jika dicermati, berarti tidak semua hari-hari yang dianggap baik itu berbuah baik sesuai harapan pula. Dari 14 hari baik itu, hanya enam yang membuahkan anak suputra yakni hari ke sembilan, ke sepuluh, ke dua belas, ke empat belas, ke lima belas dan ke enam belas.
Perhitungan hari sesudah menstruasi sebagai hari baik melakukan hubungan seksual sesungguhnya sangat logis dan ilmiah. Berhubungan saat istri menstruasi memang tidak akan menimbulkan pembuahan. Pembuahan baru akan terjadi apabila wanita memasuki masa subur dan sperma laki-laki sempurna, sehat dan cukup kuat untuk menjangkau sel telur. Itu baru bisa terjadi pada rentang waktu setelah masa menstruasi berakhir (biasanya tiga-lima hari) hingga sepekan menjelang mesntruasi berikutnya.
Namun, pilihan hari-hari baik itu pun masih harus dipertimbangkan lagi dengan hari-hari pantangan. Pasalnya, ada hari-hari tertentu yang dianggap buruk untuk melakukan hubungan seksual.
Meski begitu, seperti lazimnya tradisi padewasan, hari-hari baik untuk melakukan hubungan seksual tidak ada artinya jika hubungan seksual tidak dilandasi oleh kesucian, kasih sayang dan ketulusan di antara pasangan. Justru, suasana hati yang suci, penuh kasih dan sayang serta ketulusan itu memegang peranan yang sangat besar anak yang akan dilahirkan selain cara mengasuh dan mendidik sang anak setelah lahir.
Pilihan waktu yang baik untuk melakukan hubungan seksual semata-mata untuk menyadarkan tentang betapa pentingnya menjaga kesucian hubungan seksual itu. Dengan senantiasa berlandaskan kesucian, ketulusan dan kasih sayang, hubungan seksual itu menjadi memiliki makna bagi kehidupan. (*)

Baca Selengkapnya..

Selasa, 2009 Mei 19

Sejak 2000 Tahun Lalu Orang Bali sudah Gunakan Produk Impor


PANDANGAN yang menyebutkan bahwa sikap hidup konsumtif dan hedonis orang Bali baru kali muncul ketika Bali mendapat sentuhan budaya global, terbantahkan. Berdasarkan temuan-temuan arkeologis, orang Bali ternyata sudah memiliki sikap hidup konsumtif dan hedonis sejak 2000 tahun silam. Bahkan, sudah pada abad ke-2 sebelum Masehi, orang Bali terbiasa menggunakan produk-produk impor dari Cina dan India.

Hal ini terungkap dalam seminar seri sastra, sosial dan budaya yang digelar Fakultas Sastra, Universitas Udayana (Unud), Jumat, 15 Mei 2009 lalu di gedung Widya Sabha Prof. Dr. IB Mantra, Kampus Jalan Pulau Nias, Denpasar. Tampil sebagai pembicara dalam seminar tersebut, Dekan Fakultas Sastra Unud, Prof. Dr. I Wayan Ardika, M.A., dan dosen Jurusan arkeologi Faksas Unud, Rochtri Agung Bawono, S.S.,M.Si.
Menurut Ardika, sudah sejak 2000 tahun lalu Bali terlibat dalam suatu perdagangan dunia/global, terutama dengan pedagang-pedagang Cina dan India. Berbagai tinggalan arkeologis di Bali menunjukkan hal itu, di antaranya ditemukannya nekara perunggu di Pejeng, miniatur nekara di sejumlah tempat, uang kepeng, serta benda-benda bekal kubur yang terdapat pada sejumlah sarkofagus.
"Bali menjadi tempat bertemunya dua kebudayaan besar yakni Cina dan India," kata Ardika.
Sementara Rochtri menyampaikan temuannya mengenai sarkofagus di Pangkung Paruk, Seririt Buleleng. Dalam sarkofagus itu ditemukan adanya kerangka manusia lengkap dengan benda-benda bekal kubur. Salah satu benda bekal kubur yang ditemukan yakni cermin perunggu yang diduga berasal dari Cina.

Baca Selengkapnya..

Rabu, 2009 Maret 25

Merawat Bumi dengan Nyepi

Catatan Hari Suci Nyepi

BERUNTUNGLAH Bali karena mewarisi tradisi Nyepi. Tradisi yang ditandai dengan penghentian segala aktivitas itu ternyata bukan semata sebagai ritus keagamaan yang kaya makna filosofis-spiritual, tetapi juga sebuah laku nyata merawat bumi.
Tengoklah, saat Nyepi manusia menghentikan aktivitasnya secara total. Tidak bekerja, tidak bepergian, tidak menyalakan api yang berarti menghemat energi, serta tidak menghibur diri. Alam dibiarkan beristirahat, bumi dibiarkan menikmati kebebasannya.
Sehari sebelumnya, manusia Bali melaksanakan ritus tawur kesanga. Sebuah ritual keagamaan yang sejatinya bermakna sebagai peringatan kepada manusia Bali untuk senantiasa ingat bahwa mereka berutang kepada bumi. Karena itu, mereka mestilah membayarnya lewat tawur. Karenanya, tawur mestilah dialirkan menjadi laku senyata-nyatanya menjaga dan merawat bumi.
Sepertinya, para tetua Bali di masa lalu bervisi dan berkesadaran universal utuh-menyeluruh. Bahwa alam ini adalah sahabat terpenting manusia. Manusia berhutang besar kepada alam, kepada bumi. Karena itu, manusia patutlah berterima kasih kepada alam.

Berterima kasih kepada alam itu kemudian dituangkan dalam aneka tradisi yang sarat makna jaga lingkungan. Mulai dari hari untuk mengucap syukur dan terima kasih kepada tumbuh-tumbuhan (Tumpek Pengatag), hewan (Tumpek Kandang), caru, tawur dan aneka tradisi kental visi berkesadaran lingkungan.
Puncaknya, manusia Bali diajak semakin menyelami ungkapan terima kasih kepada alam itu melalui Nyepi. Alam dibiarkan beristirahat, bebas dari segala eksploitasi manusia yang terkadang tanpa batas juga liar.
Ibarat mesin, alam ini memang perlu diistirahatkan. Bebannya perlu diringankan. Jika terus dipaksakan untuk bekerja menopang keinginan manusia yang terus membuncah, mesin itu bisa meledak, hancur dan mencelakakan manusia.
Manusia sendiri juga perlu istirahat. Tidak mungkin manusia bisa bekerja sepanjang hari penuh. Manusia perlu tidur, menutup mata untuk mengembalikan energi sehingga keesokan harinya bisa segar kembali. Orang yang tidak mendapat istirahat yang cukup akan kelihatan kusut, tidak bersemangat. Begitu juga alam. Jika tidak pernah diberikan kesempatan beristirahat, alam akan kelelahan, Ujung-ujungnya, alam tak bisa lagi menopang segala keinginan manusia. Bahkan, alam pun akan bereaksi logis yang berakibat pada gundahnya manusia.
Pemanasan global yang kini mengguncang dunia merupakan akibat dari alam yang tidak pernah diberikan kesempatan beristirahat. Milyaran penduduk dunia tiada henti mengeksploitasi bumi ini. Akibatnya, alam pun bereaksi logis, tatanan iklim menjadi berubah, cuaca menjadi kacau yang ujung-ujungnya memengaruhi kehidupan manusia. Sekali lagi, alam sedang bereaksi logis sesuai hukumnya. Alam tidak sedang marah, alam tidak sedang membalas dendam. Alam tidak mengenal marah, alam tidak mengenal dendam. Kitalah yang tidak bisa bersahabat dengan alam, kendati pun alam sudah memberikan segalanya kepada kita.
Karenanya, menawarkan tradisi Nyepi kepada dunia penting untuk dilakukan. Bukan untuk sebuah kebanggaan sebagai orang Bali, sebagai orang Hindu, tetapi tugas suci sebagai manusia yang mendiami bumi tercinta ini.
Mungkin tidak secara utuh tradisi Nyepi diadopsi karena tentu amatlah sulit bagi dunia untuk menghentikan aktivitas dalam sehari. Akan tetapi, setidaknya spirit utama Nyepi ditonjolkan yakni menahan diri dan hemat energi. Alangkah eloknya jika sehari kita tidak menggunakan bahan bakar dari fosil, semacam hari bebas bahan bakar fosil. Ini tentu akan sangat mebantu mengurangi emisi gas karbondioksida di udara.
[]

Baca Selengkapnya..

Selasa, 2009 Maret 24

Melasti dan Bayang-bayang Krisis Air Bali


SEJAK Minggu (22/3) lalu hingga Selasa (24/3) hari ini, umat Hindu di Bali melaksanakan upacara pemelastian sebagai rangkaian dari hari suci Nyepi tahun baru Saka 1931 yang jatuh pada Kamis (26/3) lusa. Umat berbondong-bondong mengarus menuju pantai, danau, sungai, atau pusat-pusat mata air lainnya. Inilah sebuah ritus sosio-religius perjalanan menuju air.
Ada banyak pendapat mengenai makna melasti. Namun, makna yang umum diketahui yakni sebagai proses penyucian alam makrokosmos bhuwana agung sehingga saat hari suci Nyepi, dunia sudah berada dalam kondisi suci, bersih. Sementara pada sehari menjelang Nyepi dilaksanakan tawur agung kesanga (sejenis upacara penyucian alam makrokosmos juga) yang diakhiri dengan upacara mabuu-buu serta mabyakala yakni upacara pembersihan diri (pemnbersihan alam mikrokosmos.

Namun, melasti sesungguhnya berasal dari kata me dan lasti. Lasti berarti tepi. Senyatanya melasti memang perjalanan menuju tepi pusat mata air: tepi laut, tepi danau, tepi sungai dan sejenisnya. Ini merupakan tradisi agraris yang mengingatkan manusia untuk senantiasa menjaga pusat-pusat mata air. Sebab, dalam keyakinan orang Bali, air adalah sumber kehidupan.
Agama orang Bali, sebelum diakui sebagai agama Hindu, dikenal dengan sebutan agama tirtha, agama air. Agama yang ritualnya diawali dan diakhiri dengan air suci (tirtha). Air menjadi pokok ritual keagamaan orang Bali.
Namun, ratusan tahun melasti dilaksanakan di Bali, bayang-bayang krisis air tetap saja menghantui. Tradisi ritual yang sarat pesan untuk merawat pusat-pusat mata air ternyata tak diikuti dengan kesadaran untuk menjaga sumber-sumber mata air Bali.
Karenanya, sudah saatnya melasti tidak semata dimaknai sebatas sebagai ritual religius dengan makna simbolis tetapi juga harus diresapi sebgai pesan kultural yang penting untuk mulai merawat dan melestarikan sumber-sumber air Bali. Hanya dengan begitu, Bali akan tetap menjadi tempat yang nyaman untuk ditinggali, tidak saja bagi manusia Bali, tetapi juga bagi agama tirtha, agama air, agama Hindu.
Selamat Hari Suci Nyepi tahun Baru Saka 1931!

Baca Selengkapnya..

Minggu, 2008 Desember 21

Ibu, Perawat dan Penjaga Kehidupan

* Catatan Hari Ibu

Kasih ibu kepada beta/
tak terhingga sepanjang masa/
hanya memberi tak harap kembali/
bagai sang Surya menyinari dunia//




BERBAHAGIALAH mereka yang menjadi ibu. Lantaran kepada ibulah kehidupan ini berutang demikian besar. Karena ibu, kehidupan bisa terus mengalir. Ibu adalah perawat dan penjaga kehidupan.

-----------------------------
"APAKAH yang mampu menghidupi dan membesarkan lebih mulia daripada bumi ini?" Begitu selarik tanya dari Yaksa yang gaib kepada Yudistira tatkala berada di tepian sebuah telaga. Putra Kunti itu tengah meratapi jazad saudara-saudaranya, Bima, Arjuna, Nakula dan Sahadewa yang meninggal setelah meminum air telaga. Yudistira memohon agar saudara-saudaranya bisa dihidupkan kembali lalu Yaksa mensyaratkan Yudistira mesti bisa menjawab pertanyaan-pertanyaannya.
"Ibu. Beliaulah yang melahirkan dan membesarkan anak-anaknya lebih mulia dan lebih menghidupi daripada bumi ini." Begitu jawaban Yudistira yang ternyata dibenarkan Yaksa.
Percakapan antara Yudistira dan Yaksa ini kerap kali disodorkan ketika membincang kemuliaan ibu. Bahwa kemulian seorang ibu tiada bandingannya. Bahkan jika orang menyebut teramat mulianya bumi ini untuk merawat kehidupan, kemuliaan seorang ibu melampaui hal itu.
Seorang ibu memang sangat dekat dengan sifat tulus memelihara, ikhlas merawat, tegar menjaga serta tanpa pamrih melindungi. Seorang ibu akan merasa berdosa kepada anaknya jika tak mampu melaksanakan kewajiban mulianya itu.
Karena itu, bisa dipahami kemudian mengapa seorang Kunti dikejar-kejar perasaan berdosa sepanjang hidupnya karena telah membuang putra pertamanya, Karna. Kunti pun akhirnya menjalani "hukumannya" sepanjang hayat. Batinnya tersiksa, hatinya teriris-iris. Puncaknya, dia akhirnya harus kehilangan putra yang sejak lama dirindukannya itu. Tragisnya, Karna meninggal oleh anak panah adiknya sendiri, Arjuna. Mereka lahir dari rahim yang sama, rahim Kunti.
Bagi seorang anak, memiliki ibu adalah sebuah karunia sejati dalam hidup. Ibulah yang menjadikannya ada. Ibulah yang kemudian merawatnya dengan tulus hingga bisa menatap matahari dengan wajah tegak.
Maka, sepanjang hidupnya, seorang Karna yang agung senantiasa diusik kerinduan untuk bertemu ibu kandungnya. Kerinduan yang mewujud dalam mimpi-mimpi yang panjang. Perasaannya belum tenang jika belum mengetahui siapa ibu kandungnya.
Ada rasa dendam, memang, pada sang ibu yang telah menyia-nyiakannya ketika lahir. Namun, ketika mengetahui dan bertemu dengan Kunti, sang ibu kandung, toh akhirnya Karna tak bisa marah. Wajah ibu teramat menyejukkan, terlampau teduh. Betapa pun hati panas membara, di depan ibu, semuanya menjadi luluh.
Karenanya, berbahagialah mereka yang telah menjadi ibu. Seorang ibu tidak saja melahirkan anak-anak dari suaminya, tetapi lebih dari itu, seorang ibu telah menjadi sosok yang merawat dan menjaga kehidupan. Seorang ibu telah memaknai secara nyata bagaimana semestinya mencintai kehidupan ini dengan tulus dan bagaimana berkorban tanpa pamrih bagi kehidupan.
Sampai di sini bisa dipahami mengapa kemudian seorang perempuan lebih dihargai ketika melakoni tugas mulia sebagai seorang Ibu. Karena, menjadi ibu adalah puncak pencapaian dari perjalanan panjang seorang perempuan. Seperti halnya puncak pencapaian seorang laki-laki saat menjadi ayah. Lantaran, pada titik itulah kontribusi nyata bagi kehidupan. Selamat Hari Ibu!

Baca Selengkapnya..

Jumat, 2008 Desember 19

"Buda Cemeng Kelawu", Hari Keuangan Gaya Bali


RABU (17/12) lalu orang Bali kembali merayakan hari Buda Cemeng Kelawu. Menurut tradisi Bali, Buda Cemeng Kelawu dimaknai sebagai piodalan pipis, saat menghaturkan rasa syukur ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa atas limpahan karunia uang yang berlimpah. Pada hari itu, orang Bali memuja Hyang Widhi dalam prabhawa Batari Rambut Sadana yang dimanifestasikan sebagai Dewi Penguasa Uang. Inilah tradisi lokal yang dapat disejajarkan sebagai Hari Keuangan gaya Bali.

-----------------------
MASYARAKAT di wilayah Bali Timur seperti Gianyar, Bangli, Klungkung hingga Karangasem, hari Buda Cemeng Kelawu mendapat perhatian khusus. Masyarakat awam memaknai Buda Cemeng Kelawu sebagai hari piodalan pipis, hari untuk memuja Batari Rambut Sadana atas karunia kemakmuran dan kesejahteraan yang melimpah.
Pada hari itu, kebanyakan keluarga menghaturkan piodalan di sanggah/merajan rumah masing-masing. Belakangan, lembaga-lembaga keuangan seperti bank mulai mengadakan piodalan atau pujawali di padmasana kantor masing-masing pada Buda Cemeng Kelawu. Karenanya, Buda Cemeng Kelawu menjadi begitu semarak dan meriah di seantero Bali.
Memang, dalam lontar Sundarigama disebutkan, Buda Wage Kliwon yang disebut juga Buda Cemeng Kelawu merupakan saat memuja Batari Rambut Sadana, sang Dewi penguasa atas uang. Saat itu diyakini sebagai saat beryoganya Batari Rambut Sadana.
Wayan Budha Gautama dalam buku Rerahinan Hari Raya Umat Hindu disebutkan jenis widi-widana yang mesti dipersembahkan pada Buda Cemeng Kelawu meliputi suci, daksina, peras, penek, ajuman, sodaan putih kuning. Namun, persembahan ini masih bisa berubah lagi sesuai loka dresta masing-masing daerah.
Tempat menghaturkan persembahan widi-widana tersebut di antaranya parahyangan antara lain Pura Melanting atau pura-pura lainnya yang memang memiliki arca lingga Ida Batara Rambut Sadana. Begitu juga di sanggah/merajan serta tempat penyimpanan uang (brankas) dan tempat penyimpanan beras.

Pantangan Bertransaksi

Yang menarik, ada keyakinan di kalangan sebagian orang Bali mengenai pantangan untuk bertransaksi menggunakan uang dan sejenisnya saat Buda Cemeng Kelawu. Di sejumlah daerah juga disebutkan saat Buda Cemeng Kelawu dipantangkan untuk membayar atau menagih utang-piutang atau pun memberikan/menyedekahkan beras kepada orang lain.
Bagi orang yang hidup dalam tradisi modern, pantangan semacam ini tentu saja sulit untuk diterima. Dinamika perekonomian masyarakat yang begitu tinggi membuat tidak mungkin untuk menghentikan transaksi menggunakan uang dalam sehari. Menghentikan transaksi berarti juga menghentikan kegiatan ekonomi. Berhentinya kegiatan ekonomi berarti kerugian.
Namun, pantangan bertransaksi menggunakan uang dan alat pembayaran sejenisnya di hari Buda Cemeng Kelawu mesti dimaknai sebagai sebuah kearifan lokal Bali dalam memandang arti dan makna uang. Orang Bali menyadari uang merupakan sesuatu yang telah menempati posisi sangat penting dalam kehidupan masyarakat saat ini. Terlebih lagi di masa serbaparadoks kini. Seperti disuratkan dalam Nitisastra, di zaman Kaliyuga yang menang adalah ia yang memiliki uang. Dengan uang, orang kini bisa melakukan apa saja untuk memuaskan keinginannya. Mulai dari membeli mobil terbaru, rumah mewah hingga membeli jabatan tinggi.
Karena begitu berkuasanya uang di zaman Kaliyuga, orang Bali senantiasa diingatkan untuk bisa mengendalikan dirinya dalam memandang, memaknai, memperlakukan serta mencari uang. Saat Buda Cemeng Kelawu, orang Bali disadarkan betapa uang bukanlah segalanya, uang bukanlah dewa. Dengan membiarkan uang diam, tidak dibayarkan dan tidak beredar, orang Bali diingatkan tentang hakikat uang. Yang berkuasa atas segala dunia ini adalah Yang Maha Agung, Yang Mahasumber, Yang Maha Pencipta.
Orang Bali juga diingatkan untuk mengelola uangnya secara arif dan proporsional. Dalam kitab Sarasamuscaya disebutkan, harta kekayaan, termasuk uang yang didapat hendaknya dibagi tiga. Sepertiga buat memenuhi keperluan hidup (kama), sepertiga buat diinvestasikan atau diputar lagi (arta) sehingga menjadi terus bertambah. Sisanya sepertiga lagi mestilah didermakan, di-yadnya-kan (dharma). Dharma ini mesti diterjemahkan dalam arti yang lebih luas. Tidak hanya untuk kepentingan upacara agama, juga untuk membantu saudara-saudara kita yang kurang mampu, membiayai pendidikan anak-anak miskin.

Baca Selengkapnya..

Jumat, 2008 Desember 12

Berkarma sesuai "Swadharma", Berdamai dengan Sang Kala


Mengungkap Misteri "Wuku Wayang"

DI
antara 30 wuku yang ada dalam tradisi pawukon Bali, wuku Wayang tergolong memiliki kekhususan tersendiri. Betapa tidak, hari-hari dalam wuku Wayang dianggap leteh (kotor). Menurut Dra. Ni Made Sri Arwati dalam buku Upacara Upakara Agama Hindu Berdasarkan Pawukon, wuku Wayang merupakan saat bertemunya Sang Wayang dengan Sang Sinta. Hal ini mengacu kepada isi lontar Sundarigama.
"Tidak dibenarkan melakukan penyucian diri, terutama pada hari Jumat Wage Wuku Wayang," kata Sri Arwati.

Penekun lontar, Drs. IB Putu Sudarsana, MBA., M.M., menambahkan hari Jumat Wage merupakan titik puncak dari kekotoran dunia (rahina cemer). Lazim disebut dengan istilah dina kala paksa.
"Saat itu umat Hindu tidak diperkenankan mencuci rambut atau keramas. Bagi para wiku juga tidak diperkenankan memuja," jelas Sudarsana.
Sudarsana kemudian memberi penjelasan mengapa hari dina kala paksa dianggap sebagai hari paling kotor. Menggunakan pendekatan Tattwa Samkya, Sudarsana menguraikan wuku Wayang memiliki urip 4, hari Jumat (Sukra) memiliki urip 6, dan wara Wage memiliki urip 4. Jika ketiga urip itu dijumlahkan, didapat angka 14. Angka 14 terdiri dari angka 1 dan 4, yang jika dijumlahnya menjadi 5.
Angka 5 tersebut, dalam pemahaman Sudarsana merupakan simbol dari kekuatan panca maha bhuta (lima unsur pembentuk tubuh). Karenanya, dina kala paksa merupakan hari yang dikuasai kekuatan panca maha bhuta sehingga menjadi puncak hari kotor. Saat itu kekuatan Kala dinyatakan sedang memuncak.
Untuk menetralisir kekotoran pada dina kala paksa, lontar Sundarigama mengamanatkan untuk mengoleskan kapur sirih pada ulu hati. Olesan kapur sirih itu berbentuk tampak dara (tanda silang).
Selain itu, menurut Sudarsana, umat juga disarankan memasang sesuwuk (semacam penanda). Sesuwuk tersebut terbuat dari daun pandan berduri, dipotong-potong yang panjangnya 5 cm. Selanjutnya diolesi kapur sirih berbentuk tampak dara (silang). Sesuwuk dibuat sebanyak bangunan suci dan rumah yang dimiliki.
Daun pandan tersebut dialasi dengan sebuah sidi serta diisi juga sebuah takir berisi kapur sirih dan benang tri datu sepanjang dua jengkal, lengkap dengan canang sari. Di dalam sidi diisi sebuah takir lagi lengkap dengan tri ketuka (mesui, kesuna, jangu) yang telah digerus.
Semua sesuwuk itu, menurut Sudarsana, sarat dengan makna. Daun pandan berduri disebutnya sebagai simbol kekuatan Kala, serta dioles dengan kapur sirih sebagai simbol kekuatan dharma. Tanda tapak dara merupakan simbol kekuatan swastika untuk mengembalikan adharma menuju dharma.
Daun pandan yang dikumpulkan menjadi satu kemudian diikat dengan benang tri datu serta dialasi sidi merupakan simbol permohonan ke hadapan Hyang Widhi agar dianugerahkan kesidhian, sabda, bayu dan idep sehingga bisa memiliki kekuatan religiomagis dalam mengembalikan kekuatan kala tersebut ke sumbernya. Semua menjadi Kala Hita, untuk bisa memberikan kesejahteraan alam semesta.
Keesokan harinya, sesuwuk itu dibuang ke lebuh (di depan pintu gerbang rumah). Lebuh merupakan simbol nistaning mandhala serta menjadi menjadi simbol sapta patala, sorganya Kala. Ini berarti mengembalikan Kala ke asalnya.
Jika dicermati, wuku Wayang memberi pesan penting tentang bagaimana semestinya manusia berdamai dengan waktu (kala). Hari-hari wuku Wayang yang berpuncak pada Tumpek Wayang mengingatkan manusia betapa yang tak bisa dikalahkan adalah sang Waktu. Jika orang tak memahami hakikat waktu, maka waktulah yang akan menyantapnya, menelannya.
Pesan ini semakin jelas tertangkap pada mitologi Sang kala memburu Sang Kumara. Karena diburu Sang Kala, Sang Kumara memilih bersembunyi di bumbung gender sang Dalang. Cerita ini mengandung makna jika seseorang tak ingin ditelan waktu, dia harus meminta perlindungan kepada Sang Dalang Agung, Tuhan Yang Maha Esa. Tempat berlindung di bumbung gender mengisyaratkan pesan agar manusia mengikuti irama dinamis dari perjalanan zaman dalam hidup dan kehidupannya. Sederhanya, berkarmalah sesuai swadharma dan berdamai dengan Sang Kala.

Baca Selengkapnya..

Melihat Diri Sendiri dalam Wayang


Memaknai Hari Suci Tumpek Wayang

SABTU, 13 Desember 2008 ini, umat Hindu kembali merayakan hari suci Tumpek Wayang. Pada hari itu diupacarai berbagai jenis alat-alat tetabuhan atau reringgitan seperti gong, gender, gambang, genta, gendongan termasuk wayang. Pemujaan ditujukan kepada Tuhan dalam manifestasi sebagai Hyang Iswara.
W. Watra dalam buku Filsafat Wayang dalam Panca Yadnya menyebutkan wayang berkisar pada masalah bayangan. Bicara masalah bayangan, harus ada cahaya. Berbicara masalah cahaya harus ada sumber cahaya. Sumber cahaya paling hakiki adalah Tuhan yang di Bali dikenal sebagai Hyang.

Karenanya, menurut Watra, wayang adalah bayangan akibat adanya sinar, antara gelap dan terang (rwa bhineda). Wayang ada karena cahaya dari Hyang (Tuhan).
Dari pandangan itu, Tumpek Wayang dapat dimaknai secara lahir dan batin. Menurut I Gusti Ketut Widana, secara lahir Tumpek Wayang merupakan bentuk permohonan bagi mereka yang menjalani profesi pewayangan sehingga dapat menjadi dalang metaksu yang mampu menjembatani alam wayang yang abstrak ke dalam alam nyata melalui pementasan tokoh-tokoh pewayngan yang dipertontonkan untuk diambil nilai-nilai tuntunannya.
Secara batin, melalui perayaan Tumpek Wayang kita akan selalu disadarkan bahwa hidup ini sebenarnya merupakan sebuah panggung wayang. Keberadaan kita, peranan yang didapat dan dilakukan dan ke mana akhirnya tujuan kita sudah diatur dan ditentukan oleh sang Dalang Agung yakni Hyang Widi.
"Karena itu, kita diingatkan terus untuk senantiasa mendekatkan diri pada Hyang Widhi agar memperoleh jagadhita dan moksa, kesejahteraan lahir dan kebahagiaan batin," urai Widana.
Selain itu, masih menurut Widana, Tumpek Wayang juga sejatinya mengajak umat untuk selalu bercermin pada wayang dengan segala tokoh dan perannya. Apakah kita seperti Dharmawangsa, Arjuna, Bima atau masih seperti Sekuni, Duryadana. Bercermin pada wayang itu penting untuk memperbaiki citra diri atau menyempurnakan karma masing-masing.
IBG Agastia dalam kumpulan tulisannya, Wija Kasawur menulis, dengan menonton wayang sesungguhnya kita dapat menonton diri kita, kita dapat menghadirkan diri kita di hadapan kita. Makna pertempuran antara Rama dengan Rawana, Pandawa dengan Korawa, antara dharma dengan adharma, susila dengan asusila sesungguhnya adalah pertempuran yang terjadi dalam diri kita, pertempuran yang tak henti-hentinya.
Karenanya, dapat dimengerti mengapa kemudian wayang mendapat posisi terhormat dalam kebudyaaan Hindu di Nusantara. Wayang menjadi salah satu sarana "pembebasan" diri. Di kalangan masyarakat Indonesia, wayang memiliki fungsi ruwat. Terlebih lagi di Bali, wayang menjadi sarana penyucian yang penting. Wayang, khususnya wayang lemah merupakan salah satu bagian penting wali dalam setiap karya berskala besar. Begitu juga anak yang lahir pada wuku Wayang akan di-bayuh dengan tirtha penglukatan wayang.
I Gusti Ketut Widana sendiri melihat setiap perangkat dalam pementasan wayang memiliki makna tersendiri. Kelir wayang merupakan simbol ruang, alam permukaan bumi sebagai lambang badan jasmani yang akan menampakkan bayangan hari dan menggambarkan gejolak Tri Guna. Lampu belencong melambangkan matahari yaitu sinar hidup yang terpancar dari Hyang Widhi dan juga merupakan sinarnya Jiwatman yang memberikan sinar kepada Tri Guna. Dalang merupakan simbol dari bayangan Hyang Widhi yang berkuasa atas segala tokoh dan peran yang dimainkan manusia. Dalang juga merupakan jiwatma yang memberikan sinar/kekuatan melalui suksma sarira sehingga sthula sarira menjadi hidup dan dinamis.
Wayang sendiri tidak lain sebagai lambang dari makhluk-makhluk ciptaan-Nya, amnusia, hewan dan tumbuh-tumnbuhan, masing-masing menjalani proses lahir, hidup dan mati sesuai kehendak-Nya. Gedong (tempat wayang) sendiri merupakan simbol Tri Kona (lahir, hidup, mati). Gender yang mengiringi pementasan wayang merupakan simbolik irama dinamis dari perjalanan zaman, juga merupakan suara suksma tentang kehidupan dan kematian.(*)

Baca Selengkapnya..

Selasa, 2008 Desember 02

Saatnya Mereaktualisasi "Tumpek Wariga"

Catatan Bulan Menanam Pohon Indonesia


PEMERINTAH
menetapkan tanggal 28 November sebagai Hari Menanam Pohon Indonesia. Selain itu, Desember juga ditetapkan sebagai Bulan Menanam Pohon Indonesia. Inilah upaya nyata membangkitkan tradisi menanam pohon di kalangan masyarakat Indonesia guna mengurangi dampak Pemanasan Global sehingga bumi tetap nyaman untuk dihuni. Bali pun sejatinya sejak lama sudah memiliki tradisi untuk menghargai segala jenis tumbuh-tumbuhan (sarwa tumuwuh). Bali mengenal tradisi hari Tumpek Wariga (disebut juga Tumpek Pengatag, Tumpek Bubuh serta Tumpek Uduh) yang sejatinya sebagai hari peringatan agar manusia Bali menyadari betapa besar dan pentingnya peranan tumbuhan dalam menopang hidup dan kehidupan. Sepatutnya tradisi Tumpek Wariga disertai dengan penanaman pohon. Namun, yang menonjol selama ini lebih banyak ritual. Inilah saatnya mereaktualisasi Tumpek Wariga yang secara konsepsi sangat kontekstual dengan kondisi zaman.

---------------------------
DALAM konsepsi Hindu, saat Tumpek Pengatag dihaturkan persembahan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasi sebagai Sangkara, Dewa Penguasa Tumbuh-tumbuhan yang dkonkretkan melalui mengupacarai pepohonan. Memang, menurut tradisi susastra Bali, yang menyebabkan tumbuh-tumbuhan hidup dan memberikan hasil kepada manusia adalah Hyang Sangkara. Karenanya, ucapan syukur dan penghormatan kepada Hyang Sangkara mesti dilakukan manusia dengan mengasihi segala jenis tumbuh-tumbuhan.
Dengan demikian, sejatinya, perayaan hari Tumpek Pengatag memberi isyarat dan makna mendalam agar manusia mengasihi dan menyayangi alam dan lingkungan yang telah berjasa menopang hidup dan penghidupannya. Pada Tumpek Pengatag, momentum kasih dan sayang kepada alam itu diarahkan kepada tumbuh-tumbuhan. Betapa besarnya peranan tumbuh-tumbuhan dalam memberi hidup umat manusia. Hampir seluruh kebutuhan hidup umat manusia bersumber dari tumbuh-tumbuhan. Mulai dari pangan, sandang hingga papan.
Karena itu pula, tradisi perayaan Tumpek Pengatag tidaklah keliru jika disepadankan sebagai peringatan Hari Bumi gaya Bali dan kini bisa direaktualisasi sebagai hari untuk menanam pohon. Tumpek Pengatag merupakan momentum untuk merenungi jasa dan budi Ibu Bumi kepada umat manusia. Selanjutnya, dengan kesadaran diri menimbang-nimbang perilaku tak bersahabat dengan alam yang selama ini dilakukan dan memulai hari baru untuk tidak lagi merusak lingkungan. Sampai di sini, dapat disimpulkan para tetua Bali di masa lalu telah memiliki visi futuristik untuk menjaga agar Bali tak meradang menjadi tanah gersang dan kerontang akibat alam lingkungan yang tak terjaga. Bahkan, kesadaran yang tumbuh telah pula dalam konteks semesta raya, tak semata Bali. Visi dari segala tradisi itu bukan semata menjaga kelestarian alam dan lingkungan Bali, tetapi juga kelestarian alam dan lingkungan seluruh dunia. Istimewanya, segala kearifan itu muncul jauh sebelum manusia modern saat ini berteriak-teriak soal upaya untuk menjaga kelestarian lingkungan. Jauh sebelum dunia menetapkan Hari Bumi, tradisi-tradisi Bali telah lebih dulu mewadahinya dengan arif. Bahkan jauh sebelum orang menetapkan Desember sebagai bulan menanam pohon.
Hanya memang, perayaan Tumpek Pengatag sebagai Hari Bumi gaya Bali menghadirkan ironi tersendiri. Dalam berbagai bentuk, ritual dan tradisi itu berhenti pada wujud fisik upacara semata, dampak keterjagaan terhadap lingkungan Bali tak tampak secara signifikan. Kenyataannya, alam Bali tiada henti tereksploitasi.
Situasi serbaparadoks ini sesungguhnya lebih dikarenakan pemaknaan yang tidak total atau tanggung terhadap ritual-ritual yang ada. Ritual-ritual itu yang sesungguhnya hanya alat, sebatas wadah untuk mengingatkan, tidak diikuti dengan laku nyata, tidak disertai dengan aksi konkret. Karenanya, yang mesti dilakukan saat ini adalah upaya untuk memaknai ritual-ritual itu secara lebih kontekstual dan total sekaligus menyegarkannya dalam tataran laku tradisi. Perlu ada reaktualisasi terhadap kearifan-kearifan tradisi yang dimiliki Bali.
Karenanya, akan menjadi menawan, bila Tumpek Pengatag tak semata diisi dengan menghaturkan banten pengatag kepada pepohonan, tapi juga diwujudnyatakan dengan menanam pohon serta menghentikan tindakan merusak alam lingkungan. Dengan begitu, Tumpek Pengatag yang memang dilandasi kesadaran pikir visioner menjadi sebuah perayaan Hari Bumi yang paripurna. Bahkan, manusia Bali bisa lebih berbangga, karena peringatan Hari Bumi-nya dilakonkan secara nyata serta indah menawan karena diselimuti tradisi kultural bermakna kental. Bahkan, Bali tak perlu lagi dibuatkan tradisi baru: Hari atau Bulan Menanam Pohon.

Baca Selengkapnya..

Sabtu, 2008 November 22

10 Pengarang/Penulis Bali Dianugerahi "Widya Pataka"

PEMERINTAH Provinsi Bali menganugerahkan penghargaan "Widya Pataka" untuk sepuluh pengarang/penulis buku. Kesepuluh penulis/pengarang Bali itu yakni Nyoman Darma Putra (Bali dalam Kuasa Politik/kumpulan artikel), Ida Bagus Martinaya (Peti/kumpulan drama), Made Suantha (Pastoral Kupu-kupu/kumpulan puisi), Sindu Putra (Dongeng Anjing Api/kumpulan puisi), Wayan Juniarta (Bungklang Bungkling/kumpulan esai berbahasa Bali), Sunaryono Basuki Ks (Hanya Nestapa/novel), Gde Artawan (Petarung Jambul/kumpulan cerpen), Wayan Suardika (Orang Kalah/kumpulan cerpen), A.A.G. Oka Wisnumurti (Elit Lokal di Bali/hasil penelitian), dan Wayan Artika (Kembali ke Bali/kumpulan esai).

Panitia Penganugerahan Penghargaan "Widya Pataka", Drs. I Gusti Ngurah Wiryanata menjelaskan panitia dan dewan juri telah bekerja sejak awal Februari 2008 untuk menetapkan naskah dari beberapa pengarang/penulis yang berhak mendapatkan penghargaan "Widya Pataka". Seperti tahun-tahun sebelumnya, pengarang/penulis diberikan bantuan biaya cetak buku.
Kriteria penilaian ada lima poin, yaitu kualitas buku, konsistensi, produktivitas, komitmen penulisnya, dan manfaat karyanya untuk masyarakat luas. "Widya Pataka" 2008 ini direncanakan diserahkan pertengahan Nopember 2008. Selain memberikan penghargaan "Widya Pataka" kepada penulis, Badan Perpustakaan dan Arsip juga akan mengadakan launching, bedah buku dan apresiasi buku-buku yang diterbitkan serta temu/forum diskusi antarpenulis dan penerbit. Kegiatan ini dimaksudkan untuk memotivasi dunia penulisan dan penerbitan buku di Bali.
Widya Pataka rencananya akan diberikan setiap tahun sehingga setiap pengarang/penulis memperoleh kesempatan yang sama dan diharapkan dapat merangsang para penulis untuk terus berkreativitas menulis dan secara tidak langsung akan menumbuhkan iklim yang sehat terhadap pertumbuhan penerbitan buku di Bali.
Selama ini, penghargaan terhadap karya cipta sastrawan Bali diberikan oleh orang lain, seperti Yayasan Kebudayaan Rancage Bandung yang sejak sepuluh tahun terakhir menganugerahi buku terbaik dan tokoh setia dalam dunia pembinaan bahasa dan sastra Bali modern.
Penghargaan "Widya Pataka" pertama kali diberikan tahun 2006. Pada saat itu diberikan penghargaan kepada enam orang penulis/pengarang Bali yaitu Drs. I Nyoman Manda, I Wayan Pamit, I Ketut Ruma (kategori pengarang berbahasa Bali) dan Prof. Dr. IGN Nala, MPH., Ida Ayu Putu Surayin, Drs. I.B. Putu Sudarsana, MBA, M.M. (kategori pengarang berbahasa Indonesia). Kepada masing-masing pengarang diberikan plakat "Widya Pataka" dan hadiah uang tunai.
Berbeda dengan pelaksanaan tahun 2006, penghargaan "Widya Pataka" tahun 2007 diberikan berupa plakat dan hadiah/bantuan biaya cetak/penerbitan buku dari pengarang bersangkutan. "Widya Pataka" 2007 diberikan kepada 14 orang pengarang/penulis Bali yakni IGK Tribana (Desas-desus Seks dalam Pendidikan), Kadek Suartaya (Seni Pertunjukan Bali), Ketut Wiana (Sembahyang Memuja Tuhan), Made Adnyana Ole (Padi Dumadi), Made Nitis (Budidaya Gamal di Lahan Kering), Made Sujaya (Perkawinan Terlarang: Pantangan Berpoligami di Desa-desa Bali Kuno), Made Taro (Dongeng Sepanjang Abad), Mas Ruscitadewi (Penari Sanghyang), Nyoman Sukaya Sukawati (Mencari Surga di Bom Bali), Nyoman Tingkat (Berguru dalam Jejak Sastra), Nyoman Wirata (Merayakan Pohon di Kebun Puisi), Wayan Jendra (Sampradaya, Kelompok Belajar Weda), Wayan Kun Adnyana (Nalar Rupa Perupa), dan Wayan Sunarta (Impian Usai).
Sambutan masyarakat terhadap buku-buku terbitan program "Widya Pataka" ini cukup bagus. Buku-bukunya yang telah terpajang di berbagai toko buku, baik di Bali maupun luar Bali, cukup laku di pasaran. Bahkan, menurut penerbitnya, untuk memenuhi kebutuhan pasar pada Juli 2008 lalu buku-buku tersebut telah mengalami cetak ulang. (*)

Baca Selengkapnya..