Teks-teks Tradisi Bali Mengungkap Gempa Bumi
TEORI terjadinya gempa bumi dan tsunami ternyata jauh sebelumnya sudah digambarkan tetua-tetua Bali. Yang lazim dikenal manusia Bali tentu saja kisah soal gerakan bedawangnala yang membuat berguncangnya Naga Anantaboga dan Naga Basuki. Sepintas terkesan sebagai dongeng. Padahal, jika dikupas lebih jauh, gambaran itu begitu logis dan seseuai dengan teori yang diungkapkan para ilmuwan soal terjadinya gempa bumi.
---------------------------------------------------------------------
TEROR baru kini tengah menghantui masyarakat di Bali, termasuk di daerah-daerah lain di belahan bumi Nusantara yakni gempa bumi dan gelombang tsunami yang tiada henti berbiak. Setelah gempa bumi ditingkahi tsunami dahsyat yang meratakan Aceh akhir tahun 2004 silam, bencana alam terus saja bermunculan. Baru-baru ini kawasan pantai selatan ditikam gempa bumi diikuti tsunami yang mengakibatkan Pantai Pandaran dan sekitarnya amblas serta ratusan nyawa melayang.
Bali pun tiada luput dari amukan gempa bumi. Sepekan lalu, gempa bumi berkekuatan 3,67 skala richter (SR) mengguncang kawasan Singaraja. Tak ada korban jiwa, memang, tetapi cukup membuat gundah masyarakat di Pulau Dewa ini.
Gempa bumi sejatinya merupakan fenomena alam yang normal. Menurut Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG), gempa bumi merupakan bagian dari dinamika bumi yang senantiasa akan muncul sepanjang zaman.
Tradisi lokal Bali pun menyuratkan gempa bumi sebagai suatu proses alami. Manusia Bali sangat mengenal mitologi bedawangnala yang menjadi dasar Gunung Mahameru. Badawangnala itu diikat oleh dua naga yakni Naga Gombang dan Naga Gini. Dalam teks-teks sastra, naga Gombang itu disebut Ananatabhoga dan naga Gini itu disebut Basuki. Ada lagi naga Taksaka yang berada di angkasa.
“Bila Bedawangnala itu bergerak, Anantabhoga pun bergerak. Gerakan itulah yang disebut lindu atau gempa khususnya gempa tektonik. Bila gerakan bedawangnala demikian hebat, naga Basuki pun ikut bergerak sehingga timbul tsunami,” beber Ida Pedanda Putra Yoga dari Gria Tunjuk, Marga, Tabanan.
Sepintas kisah ini terkesan sebagai dongeng semata. Padahal jika dikupas lebih dalam, paparan itu sangat logis dan ilmiah. Bedawangnala, merupakan simbol dari agni (api) yang ada di dasar bumi yakni magma. Dapat juga disejajarkan sebagai lempeng bumi. Naga Anantaboga merupakan simbol tanah. Ananta berarti tidak habis-habis, sedangkan bhoga berrati makanan. Anantabhoga berarti yang tidak habis-habis memberikan makanan. Yang tidak habis-habis menyediakan makanan bagi manusia tiada lain tanah atau Ibu Pertiwi yang melahirkan berbagai pala gantung, pala wija. Sementara Naga Basuki merupakan simbol air. Basuki berarti keselamatan atau kehidupan. Yang bisa melahirkan kehidupan adalah air. Di mana ada air, maka di sana ada sumber kehidupan.
Para ilmuwan modern sendiri secara sederhana membahasakan terjadinya gempa bumi akibat adanya tumbukan antarlempeng bumi, patahan aktif aktivitas gunung api atau runtuhan batuan. Saat lempeng bumi bertumbukan, tanah pun ikut berguncang. Bila tumbukan terjadi di dasar laut dengan kekuatan di atas 6 SR dan kedalaman yang dangkal, air laut pun naik yang dikenal dengan nama tsunami. Bukankah tidak jauh berbeda dengan gambaran kisah bedawangnala itu?
Kisah soal bedawangnala diikat Anantabhoga dan Basuki ini kemudian divisualisasikan dalam wujud pelinggih padmasana. Selain itu, dalam sejumlah ritual penting di Bali, visualisasi itu pun dapat dilihat dari sarana upacara yang dihaturkan.
“Pelinggih dan upacara yang kita laksanakan itu merupakan miniatur dari lapisan-lapisan bumi serta menggambarkan proses yang terjadi di alam ini,” ujar Ida Pedanda.
Hindu sendiri mengenal bumi mempunyai tujuh lapisan yang dinamai sapta patala. Sapta patala itu yakni patala, atala, witala, nitala, talatala, mahatala dan sutala. Ilmuwan modern pun menyebut bumi ini terdiri dari sejumlah lapisan bumi seperti litosfer, astenosfer serta mesosfer. Lapisan-lapisan ini senantiasa bergerak mencapai titik keseimbangannya. Dalam upaya mencapai titik keseimbangan itu tentu saja ada perubahan, pergeseran atau ada lapisan yang lepas.
Karenanya, budayawan Ketut Sumarta menyatakan dalam kamus alam tidak ada istilah bencana. Tak pula ada cerita soal alam yang marah. Alam tak pernah marah, malah sangat pemurah. Alam hanya berusaha mencapai keseimbangan sesuai hukum yang dimilikinya.
“Bila alam tidak seimbang, maka alam sendirilah yang akan menyeimbangkannya,” ujar Sumarta.
Karena itulah, tradisi beragama masyarakat bali tidak pernah lepas dari spirit untuk menjaga keseimbangan alam. Manusia sebagai bagian dari alam tidak bisa luput dari hukum keseimbangan alam itu. Untuk itu, jalan satu-satunya yang harus dipilih manusia adalah menyesuaikan diri dengan alam. Alam mestilah diakrabi, disayangi, dirawat sehingga manusia pun turut dirawat dan dijaga. Jika manusia angkuh menentang alam, maka alam akan menagihnya kembali dengan caranya sendiri.
Dalam bahasa Ida Pedanda Putra Yoga, manusia jangan hanya ingat dan bisa mengambil dari alam, tetapi juga bisa memberi. Ida Pedanda lalu mengibaratkan dengan pelinggih yang senantiasa berisi pedagingan. Jika manusia hanya mengambil terus pedagingan itu tanpa memupuk, maka dunia pun jadi guncang.
Kata Pembuka
Om Swastyastu!
Terima kasih Anda telah mengunjungi Pojok Bali.
Blog ini disajikan untuk Anda yang haus informasi
mengenai manusia, alam dan kebudayaan Bali.
Blog ini mengajak Anda untuk menjelajahi
keunikan, kearifan juga sisi gelap Pulau Dewata.
Inilah sajian tentang Bali yang ditulis oleh
orang Bali dari Bali sehingga terasa sangat Bali.
Semoga informasi yang disajikan
dalam Blog ini bermanfaat!
Om Santih, Santih, Santih Om!
Salam dari Denpasar,
I Made Sujaya
Rabu, 23 Desember 2009
Kisah Berguncangnya Naga Anantaboga dan Naga Basuki
Tradisi "Otonan" Kian Terdesak Ulang Tahun?
TRADISI otonan kini kian terdesak. Anak-anak Bali lebih suka merayakan hari ulang tahun daripada otonan. Padahal, ulang tahun bukanlah tradisi Bali. Tradisi perayaan hari kelahiran asli Bali yakni otonan. Selain berbiaya jauh lebih murah, otonan juga sarat niali-nilai spiritual.
-----------------------------------
SABTU (12/12) lalu, Wayan Adiputra (31) sengaja memilih libur di tempatnya bekerja di sebuah hotel di kawasan Nusa Dua. Hari itu putra tunggalnya, Putu Jayantara merayakan hari ulang tahun ke-6. Bapak muda asal Klungkung ini sudah telanjur berjanji akan membuatkan perayaan sederhana untuk ulang tahun sang putra tercinta.
"Ya, yang kecil-kecilan saja. Yang penting dia senang. Kalau tak dirayakan malah ngambek," tutur Wayan Adiputra.
Sejak pagi hingga sore hari Wayan dan istrinya, Nyoman Kusumayanti sibuk menyiapkan acara perayaan. Kue tart yang dibeli khusus, aneka minuman serta makanan ringan. Yang menarik, Wayan Adiputra juga membuat olahan lawar kuwir. "Agar ada rasa Bali-nya," kata Wayan Adiputra sembari tersenyum.
Malam hari, waktu perayaan pun tiba. Beberapa saudara, kerabat serta teman bermain anaknya pun datang. Kue tart disajikan. Lilin dinyalakan. Mulailah kemudian dinyanyikan lagu Happy Birth Day dan Selamat Ulang Tahun. Jayantara yang sudah bersiap sejak sore itu pun meniup lilin. Selanjutnya kue tart dipotong dan dibagi-bagi kepada ibu, ayah, paman, bibi dan teman-temannya. Pesta ulang tahun terasa begitu meriah, Jayantara pun sumringah.
Adiputra merupakan satu di antara banyak keluarga muda Bali yang gandrung menggelar perayaan ultah untuk anak-anaknya. Namun, sebagai orang Bali, Adiputra juga membuatkan sesajen saat hari lahir putrinya sesuai dengan tradisi Bali: otonan.
"Kalau ulang tahun hanya dibuat sederhana, sekadar agar anak senang. Kalau otonan dibuat lebih besar dengan mengundang lebih banyak orang," kata Adiputra.
Memang cukup banyak keluarga Bali kini yang bersikap "standar ganda" dalam menyikapi perayaan hari kelahiran anak-anaknya. Mereka menggelar perayaan ultah seperti lazimnya orang-orang modern kini, tetapi sebagai orang Bali tetap juga melaksanakan upacara otonan.
Sejatinya tidak masalah jika umat Hindu melaksanakan ulang tahun meskipun ulang tahun merupakan tradisi Hindu atau tradisi Bali. Namun, perayaan hari kelahiran dalam konsep Hindu yakni otonan jangan sampai dilupakan.
Otonan tidak selalu harus besar, sejatinya. Sederhana juga tidak apa-apa. Boleh juga otonan itu hanya diisi dengan persembahyangan saja. Yang terpenting, dalam otonan kita ingat apa tujuan dan makna kita hidup di dunia ini.
Mulai dilupakannya otonan oleh banyak keluarga Bali ketika orang Bali mulai tidak tahu tentang kalender Bali. Pasalnya, penentuan otonan tidak sama dengan penentuan hari ulang tahun yang berdasarkan tanggal, bulan dan tahun kelahiran menurut kalender Masehi yang gampang diingat. Penentuan otonan berdasarkan hari (rahina), terutama berkaitan dengan hari yang bersiklus tujuh (saptawara), hari yang bersiklus lima (pancawara), serta wuku. Karena itu, hari lahir gaya Bali jatuh saban 210 hari. Inilah yang bagi keluarga Bali yang tidak memahami soal kalender Bali menjadi kendala tersendiri untuk menentukan hari otonan.
Selain itu, perayaan otonan tidak bisa seperti ulang tahun. Jika ulang tahun bisa dilakukan di luar seperti di hotel, restoran dan tempat lainnya, kalau otonan mesti dilaksanakan di rumah.
Apalagi kini banyak hotel dan restoran yang menawarkan paket-paket khusus perayaan ulang tahun lengkap dengan segala pernak-perniknya. Ulang tahun jadi terasa lebih meriah.
Merayakan ulang tahun juga terkesan sebagai cerminan manusia modern. Banyak yang merasa sebagai keluarga modern dengan merayakan ulang tahun anak-anaknya.
Itu tidak masalah, asalkan tetap ingat otonan. Bila pun dilaksanakan ulang tahun, tetap isi dengan penanaman nilai-nilai agama Hindu.
Namun, menarik disimak komentar Made Oka, seorang guide yang tinggal di Denpasar. Meski sering bersentuhan dengan tamu asing, bapak tiga anak ini tetap teguh dengan sikapnya untuk tidak merayakan hari ulang tahun anak-anaknya. Dia memilih mengajarkan anaknya merayakan hari kelahiran khas Bali, otonan.
"Kita sudah punya otonan, kenapa mesti milu-milu latah-latahan merayakan ultah?" katanya.
Selasa, 01 Desember 2009
Nangluk Merana Sasih Kanem dan Mitos Ida Ratu Gde Macaling
SAAT Sasih Kanem umumnya desa-desa di Bali Selatan menggelar upacara nangluk merana. Awam memahami upacara ini sebagai ritual untuk mengusir hama dan memohon anugerah Ida Ratu Gede Macaling, penguasa laut selatan yang berstana di Pura Penataran Ped, Nusa Penida, agar dijauhkan dari segala jenis penyakit.
Biasanya, upacara nangluk merana dilaksanakan saat Tilem Kanem yang saat ini jatuh pada Buda Pon wuku Medangkungan, Rabu, 16 Desember 2009 mendatang. Namun, ada juga yang memilih melaksanakan upacara nangluk merana Kajeng Klwion Enyitan atau Kajeng Kliwon Uwudan Sasih Kanem. Desa Adat Kuta , Badung biasanya memilih waktu Kajeng Kliwon Sasih Kanem untuk menggelar upacara nangluk merana.
Upacara nangluk merana umumnya dilaksanakan krama subak di seluruh Bali. Upacara dilaksanakan di pura-pura yang berstatus sebagai pura subak, terletak di tepi pantai. Karena itu pula, upacara nangluk merana biasanya terkosentrasi di Puta Watu Klotok, Pura Masceti, Pura Erjeruk, Pura Petitenget, Pura Rambut Siwi, Pura Tanah Lot, dan pura-pura sejenisnya.
Di Kuta, saat upacara nangluk merana, seluruh pelawatan barong yang ada di tiap-tiap banjar, pura atau pun lainnya di Desa Adat Kuta tedun untuk diupacarai. Biasanya, saat itu dilaksanakan penyambeleh di hadapan pelawatan. Prosesi ini kerap diikuti dengan banyaknya orang yang kerawuhan.
Di Desa Adat Kuta sendiri terdapat sedikitnya tujuh buah pelawatan. Ketujuh pelawatan itu, pelawatan barong Banjar Pelasa, Banjar Pemamoran, Banjar Pande Mas, Banjar Tegal, Puri Satria Dalem Kaleran, Pura Lamun serta pelawatan ratu ayu Pura Tanjung Pikatan.
Selain dilaksanakan oleh krama desa adat, upacara ini juga dilaksanakan oleh seluruh pengusaha di Kuta yang memiliki tempat pemujaan Hindu. Desa adat bakal menyediakan tirtha serta kober caru ganapati.
Di Pura Petitengetm upacara nangluk merana dilaksanakan oleh Pemkab Badung bekerja sama dengan Desa Adat Kerobokan selaku pengemong Pura Petitenget. Upacara ini rutin dilaksanakan setiap tahun dan dihadiri umat Hindu dari Badung dan sekitarnya.
Namun, ritual nangluk merana semestinya dimaknai menyelusup jauh pada laku diri. Nangluk merana sebagai ritual menjaga keseimbangan alam semestinya ditindaklanjuti dengan laku diri secara nyata untuk menjaga lingkungan. Tak perlu yang berat-berat, mulailah dengan cara-cara teramat sederhana: jangan membuang sampah sembarangan, jaga kebersihan selokan, bersihkan sungai dan lainnya. Jika sudah begitu, tentu penyakit dengan sendirinya tak berani mendekat. Itulah anugerah paling nyata dari Ida Ratu Gde Mecaling. * Sujaya
Minggu, 20 September 2009
Jalan Satya Mahaksatria I Gusti Made Agung
Mengenang 103 Tahun Puputan Badung
PUPUTAN Badung memberi pelajaran berharga tentang bagaimana semestinya seorang raja menjalankan tanggung jawab bagi negara dan rakyat yang dipimpinnya. Sikap tegas dan bela pati Raja Badung, I Gusti Ngurah Made Agung, sang pemimpin perang Puputan Badung menunjukkan jelas bahwa tugas utama seorang pemimpin, seorang penguasa adalah satya, membela kepatutan negara dan rakyatnya. Sesuatu yang sangat sulit didapatkan dari para pemimpin kini.
Sikap satya kepada kebenaran dan rakyatnya itu terlihat jelas jika mengikuti peristiwa-peristiwa yang mendahului perang Puputan Badung. Diawali dengan peristiwa terdamparnya kapal “Sri Komala” di Pantai Sanur, pada tanggal 27 Mei 1904. Pemilik kapal, Kwee Tik Tjiang, seorang Cina dari Banjarmasin melaporkan kepada Raja Badung bahwa penduduk Sanur telah mencuri barang-barangnya dalam kapal.
Padahal, rakyat Sanurlah yang membantu Kwee Tik Tjiang menyelamatkan barang-barangnya saat kapalnya terdampar. Melalui punggawa Ida Bagus Ngurah, rakyat Sanur sendiri kemudian menegaskan bahwa mereka tidak ada mencuri barang-barang milik Kwee Tik Tjiang. Bahkan, rakyat Sanur mengucapkan sumpah untuk menguatkan kebenaran dari ucapan mereka.
Karena meyakini rakyat Sanur benar, Raja I Gusti Ngurah Made Agung menolak tuntutan untuk membayar ganti rugi. Atas penolakan ini, Kwee Tik Tjiang melanjutkan laporannya ke Residen Hindia Belanda di Singaraja karena kapal miliknya berbendera Belanda. Dari sinilah kemudian Belanda turut campur memaksa Raja Badung membayar ganti rugi. Raja Badung tetap teguh dengan sikapnya semula.
Raja Klungkung sempat menyarankan kepada Raja Badung untuk memenuhi tuntutan Belanda. Sementara Raja Tabanan yang memang menjadi sekutu utama Badung, mendukung langkah I Gusti Ngurah Made Agung. Raja Badung tetap tak bisa digoyahkan. Keputusan tak berubah, Belanda tak berhak meminta ganti rugi. Malah, Raja Badung balik menuntut ganti rugi Belanda karena tindakan-tindakan Belanda di awal tahun 1906 merugikan perekonomian Badung terutama dengan blokade ekonominya.
Ida Bagus Sidemen dkk., dalam buku Sejarah Badung 1779-1906 menulis, keyakinan akan kebenaran itulah yang menjadi sebab mengapa Raja Badung pantang mundur. Sumber-sumber Belanda sendiri mencatat, Badung memiliki cukup uang untuk membayar ganti rugi. Namun, ini sungguh bukan semata-mata masalah uang, tetapi masalah kedaulatan kerajaan Badung. I Gusti Rai Mirsha dalam buku Makna dan Hakikat Puputan secara lebih lugas menyatakan Raja Badung tidak sudi dijajah.
Yang penting untuk dimaknai, kesadaran I Gusti Ngurah Made Agung bahwa sebagai raja, sebagai pemimpin, dialah yang mesti berada di garda depan menghadapi musuh. Karenanya, meskipun diwarnai dengan kejadian sejumlah desa di wilayah kekuasaannya yang menyatakan menyerah kepada Belanda termasuk pengkhianatan dari beberapa pejabat kerajaan, I Gusti Ngurah Made Agung tetap tak tergoyahkan.
Pada titik ini, sikap I Gusti Ngurah Made Agung dapat dilihat sebagai upaya menegakkan moral dan harga diri sebagai bangsa berdaulat.
Namun, sejarawan Unud, Drs. I Nyoman Wijaya, M.Hum., memiliki pandangan berbeda. Menurut dia, motivasi utama I Gusti Ngurah Made Agung memilih jalan tak mau berkompromi hingga akhirnya berpuncak pada puputan sesungguhnya adalah cita-cita besarnya untuk mengembalikan kejayaan Badung di masa lalu.
Wijaya kemudian menyodorkan Geguritan Nengah Jimbaran karya I Gusti Ngurah Made Agung sebagai sebuah pertanda. Cerita dalam geguritan yang ditulis pada tahun 1903 itu mengambil latar ketika Kerajaan Badung diperintah Ratu Ngurah jambe dari Puri Denpasar (Ksatria), seorang keturunan Majapahit, dari dinasti Sri Arya Damar yang masih sedarah dengan I Gusti Ngurah Made Agung.
Saat geguritan itu ditulis, yang memegang hegemoni kekuasaan di Badung adalah dari Puri Kesiman. Dengan mengambil setting cerita pada masa Ngurah Jambe, I Gusti Ngurah Made Agung ingin menunjukkan meskipun saat itu raja dari Puri Denpasar tidak memegang hegemoni kekuasaan atas Badung, tetapi leluhurnya yakni Ngurah Jambe penah memerintah Badung yang masih keturunan Majapahit dan ada pertalian darah dengan raja yang berkuasa di Badung saat itu.
Pada akhirnya, tatkala raja dari Puri Kesiman meninggal dunia dan hegemoni kekuasaan Badung dipegangnya, cita-cita besar itu pun diwujudkan I Gusti Ngurah Made Agung. Ketidakmauan berkompromi dengan Belanda merupakan bentuk sikap konsistennya untuk memenuhi cita-citanya mewujudkan kejayaan Badung. Rakyat diharapkan akan setia kepada langkah-langkahnya seperti kesetiaan I Nengah Jimbaran melaksanakan perintah raja. * Sujaya
Kemenangan Laskar Rakyat Banjar yang tak Pernah Dikenang
Mengenang 141 Tahun Perang Banjar
SABAN 20 September, orang Bali umumnya lebih ingat dengan peristiwa Puputan Badung. Masih jarang yang tahu, 20 September juga menjadi hari bersejarah bagi rakyat Bali karena harga dirinya sebagai pejuang handal kembali terangkat. 20 September 139 tahun silam, laskar rakyat Banjar di Buleleng berhasil mengalahkan serangan ekspedisi militer Belanda. Meski sebulan kemudian perlawanan laskar Banjar itu berhasil ditaklukkan, kemenangan di Banjar itu pantas untuk senantiasa dikenang. Seperti apa peristiwa Perang Banjar itu? 
------------------------------------------------------------
PADA tahun 1860, Belanda sudah menancapkan kekuasaannya di Buleleng. Belanda mengangkat Gusti Ngurah Ketut Jelantik sebagai regent dan diberi gelar raja di Buleleng dengan melaksanakan perintah Asisten Residen Buleleng.
Di daerah Banjar, yang ditunjuk memangku jabatan punggawa yakni seorang Brahmana yang masih muda usianya, Ida Made Rai. Karena suatu sebab, Ida Made Rai diberhentikan dari jabatannya sebagai punggawa. Untuk sementara waktu dia diasingkan ke Banyuwangi.
Penguasa Belanda menunjuk Ida Ketut Anom, seorang Brahmana dari luar Banjar sebagai punggawa di Banjar menggantikan Ida Made Rai. Keputusan ini mendapat tantangan keras dari penduduk Banjar dan desa-desa sekitarnya. Mereka menganggap penunjukan seorang punggawa dari luar daerah Banjar bertentangan dengan tradisi dan adat yang berlaku sejak dulu.
Usai menjalani masa pembuangannya, Ida Made Rai kembali ke Banjar. Sadar golongan Brahmana di Banjar serta pemuka-pemuka rakyat di desa-desa sekitarnya tidak menerima kepemimpinan Ida Ketut Anom, Ida Made Rai pun menyatakan penentangan terhadap pemerintah Belanda. Sikap Ida Made Rai mendapat dukungan dari pemuka-pemuka rakyat Banjar dan desa-desa sekitarnya. Gerakan Ida Made Rai pun tumbuh menjadi gerakan rakyat Banjar dan desa-desa sekitarnya.
Pada bulan April 1868, pemuka-pemuka rakyat Banjar bersama Ida Made Rai disertai ratusan rakyat menghadap Regent/Raja Buleleng, Gusti Ngurah Ketut jelantik di Singaraja. Kedatangan rakyat itu menuntu agar Ida Made Rai segera diangkat menjadi punggawa Banjar. Seperti ditulis Ide Anak Agung Gde Agung dalam buku Bali Pada Abad XIX, karena didesak Asisten Residen Eibergen yang berkuasa di Buleleng, Raja menolak permohonan itu. Rakyat Banjar pun tidak menghiraukan lagi perintah Raja dan secara terang-terangan membangkang. Misalnya, perintah untuk memperbaiki jalan tidak mereka hiraukan.
Dalam perkembangan selanjutnya, pembangkangan yang dilakukan Ida Made Rai semakin menjadi-jadi. Hal ini memunculkan kekhawatiran Belanda akan mengganggu keamanan dan ketenteraman Buleleng. Karena itu diputuskan untuk mengirimkan ekspedisi militer keempat di bawah pimpinan Mayor W.E.F. van Heemskerk.
Menurut Ida Anak Agung Gde Agung dalam buku Bali Pada Abad XIX, pasukan ekspedisi Belanda ini dibantu dengan satu divisi pasukan marinis, sehingga jumlah pasukan yang tergabung untuk menyerang Banjar sebanyak 800 orang. Sementara Regent/Raja Buleleng, Gusti Ngurah Ketut Jelantik menyediakan tenaga kuli pengangkut perbekalan dan persenjataan pasukan Belanda.
Ida Made Rai sempat hendak berdamai dengan Belanda. Menurut Ida Anak Agung Gde Agung, pada 19 September muncul ratusan rakyat Banjar di bawah pimpinan pemuka rakyat Kalianget, I Kamasan membawa barang-barang makanan dari Ida Made Rai dan rakyat Banjar yang dihadiahkan kepada pasukan Belanda. Mereka menyampaikan kepada Mayor van Heemskerk dan Residen bahwa Ida Made Rai bersedia menyerahkan diri akan tetapi dengan syarat dia harus diangkat menjadi Punggawa Banjar. Tawaran ini tidak diterima oleh Residen dan malah I Kamasan ditahan berdasarkan alasan bahwa dia sudah dihukum penjara 12 tahun oleh Pengadilan Majelis Kerta dan kemudian dibawa ke salah satu kapal perang menunggu penyelesaian perkaranya. Setelah peristiwa itu, Residen mengirim ultimatum kepada Ida Made Rai untuk menyerah esok harinya. Jika tidak, Banjar akan diserang.
Ultimatum Belanda tidak membuat gentar Ida Made Rai. Tanggal 20 September 1868 pecahlah pertempuran antara pasukan Belanda dengan laskar Banjar dipimpin Ida Made Rai. Pertempuran di daerah Dencarik menyebabkan Letnan Stegmen dan 14 orang serdadu Belanda gugur. Sementara para tenaga pengangkut Belanda lari tunggang-langgang. Apalagi banyak di antara tenaga pengangkut itu tertembak secara tidak sengaja oleh pasukan Belanda karena mereka tidak bisa membedakan mana tenaga pengangkut yang disediakan Raja Buleleng, mana laskar banjar.
Pasukan Belanda pun memilih mundur menuju pangkalannya di Temukus. Serangan pertama Belanda terhadap Banjar gagal. Mayor van Heemskerk bermaksud mengadakan serangan kedua terhadap Banjar keesokan harinya. Akan tetapi, tenaga pengangkut yang dijanjikan Raja Buleleng tidak muncul. Orang-orang Bali tidak bersedia lagi sebagai tenaga pengangkut karena takut menghadapi ganasnya perlawanan laskar Banjar.
Pada tanggal 3 Oktober 1868 kembali dilancarkan serangan kedua kalinya. Dalam serangan kali ini, pasukan Belanda mendapat bantuan 1500 pasukan tambahan dari Raja Buleleng serta 800 orang pasukan tambahan dari Pembekel Pengastulan, Wayan Tragi. Meski begitu, serangan ini pun berhasil dipatahkan oleh laskar Banjar yang bertempur dengan semangat bergelora dan bersenjatakan tombak terhunus.
Belanda kembali menyerang Banjar pada 24 Oktober 1868. Kali ini, kekalahan berada di pihak Ida Made Rai. Pertahanannya hancur. Banyak pasukan dan orang-orang dekatnya meninggal dalam pertempuran. Sejumlah desa yang sebelumnya mendukung perjuangan Ida Made Rai pun menyerah kepada Belanda.
Ida Made Rai dan pendukungnya kemudian mengungsi ke Mengwi. Belanda pun menggunakan siasat lain untuk menangkap Ida Made Rai. Ibunda Ida Made Rai diajak menuju tempat persembunyian Ida Made Rai di Desa Denkayu dengan perjanjian tidak akan menjatuhi Ida Made Rai hukuman mati atau menembaknya. Ida Made Rai akhirnya menyerah setelah dinasihati ibunya. Ida Made Rai bersama Ida Made Tamu dan Ida Made Sapan kemudian dibuang ke Priangan, Bandung. Sementara pemimpin-pemimpin lainnya seperti I Dade dan I Kamasan dihukum penjara.
Kendati begitu, dua kali kemenangan laskar Banjar yang hanya bersenjatakan tombak cukup menampar muka Belanda. Kemenangan itu juga kembali mengangkat harga diri orang Bali setelah dua kali kemenangan yang diraih sebelumnya dalam Perang Jagaraga (1848) dan Perang Kusamba (1849). * Sujaya
Kamis, 18 Juni 2009
Pilih-pilih Hari Baik Bersenggama
SEKS bagi ajaran Hindu adalah sesuatu yang suci. Karenanya, seks mestilah didasari oleh suatu ikatan perkawinan. Hubungan seks dalam bingkai perkawinan pun tidak boleh sembarangan. Jika ingin mendapatkan keturunan yang suputra (berbakti), mestilah memilih hari baik untuk bersenggama. Hari apa saja yang dianggap baik untuk bersenggama?
-----------------------------
TRADISI Bali mengajarkan betapa pentingnya memilih hari baik untuk melakukan hubungan seksual dengan istri atau suami. Berhubungan badan dengan istri pada hari yang baik diyakini akan melahirkan keturunan yang baik pula.
Sri Reshi Ananada Kusuma dalam buku Prembon Bali Agung menyebut ada tiga hari baik untuk melakukan hubungan suami-istri. Ketiga hari baik yakni Senin Umanis, Rabu Pon dan Jumat Pon. Ketiga hari tersebut, menurut Sri Resi, diperkenankan oleh Dewa Asmara. Tidak ada penjelasan yang memadai mengapa ketiga hari tersebut dianggap baik.
Dalam Manawa Dharmasastra disebutkan lebih rinci mengenai hari-hari baik melakukan hubungan seksual. Dasar perhitungannya yakni hari menstruasi atau datang bulan sang istri. Saat yang baik berhubungan badan yakni malam hari.
Seperti dikutip Ida Bagus Wijaya Kusuma dalam buku Resep "Membuat" Anak Laki-Perempuan, ada 14 hari baik untuk melakukan hubungan seksual dengan istri dalam sebulan. Hari baik itu mulai hari ke empat hingga hari ke tujuh belas setelah istri menstruasi.
Namun, 14 hari baik untuk melakukan hubungan seksual itu masih diberi catatan tentang akibat yang akan ditimbulkannya yakni karakter anak yang dilahirkan. Jika bersenggama pada hari ke empat setelah menstruasi, diyakini akan lahir anak laki-laki tetapi pendek umurnya. Bila bersenggama pada hari ke lima, akan lahir anak wanita dengan umur yang pendek.
Senggama yang dilakukan pada hari ke enam, disebutkan akan melahirkan anak laki-laki tetapi bodoh. Jika senggama dilakukan pada hari ke tujuh, yang lahir anak wanita, bodoh dan tidak berketurunan.
Apabila berhubungan seksual dengan istri pada hari ke delapan akan lahir anak laki-laki dengan sifat berkuasa. Sementara jika bersenggama padahari ke sembilan akan lahir anak wanita yang suci sifatnya.
Persenggamaan yang terjadi pada hari ke sepuluh akan melahirkan anak laki-laki yang bijaksana sifatnya. Jika hubungan badan dilaksanakan pada hari ke sebelas akan lahir anak wanita yang antiagama.
Jika hubungan suami-istri terjadi pada hari ke dua belas akan lahir anak laki-laki yang baik sifatnya. Sebaliknya, apabila berhubungan badan pada hari ke tiga belas akan lahir anak wanita yang tidak baik sifatnya.
Hubungan seksual dengan istri pada hari ke empat belas akan membuahkan anak laki-laki yang teguh imannya, mulia, hormat pada orang tua dan setia. Sementara senggama yang dilakukan pada hari ke lima belas akan melahirkan anak wanita yang banyak anak.
Jika berhubungan badan dengan istri pada hari ke enam belas akan lahir anak laki yang bijaksana, pandai jujur, suci dan menjadi pelindung manusia pada umumnya. Sementara jika bersenggama pada hari ke tujuh belas akan lahir anak wanita yang banyak anaknya.
Jika dicermati, berarti tidak semua hari-hari yang dianggap baik itu berbuah baik sesuai harapan pula. Dari 14 hari baik itu, hanya enam yang membuahkan anak suputra yakni hari ke sembilan, ke sepuluh, ke dua belas, ke empat belas, ke lima belas dan ke enam belas.
Perhitungan hari sesudah menstruasi sebagai hari baik melakukan hubungan seksual sesungguhnya sangat logis dan ilmiah. Berhubungan saat istri menstruasi memang tidak akan menimbulkan pembuahan. Pembuahan baru akan terjadi apabila wanita memasuki masa subur dan sperma laki-laki sempurna, sehat dan cukup kuat untuk menjangkau sel telur. Itu baru bisa terjadi pada rentang waktu setelah masa menstruasi berakhir (biasanya tiga-lima hari) hingga sepekan menjelang mesntruasi berikutnya.
Namun, pilihan hari-hari baik itu pun masih harus dipertimbangkan lagi dengan hari-hari pantangan. Pasalnya, ada hari-hari tertentu yang dianggap buruk untuk melakukan hubungan seksual.
Meski begitu, seperti lazimnya tradisi padewasan, hari-hari baik untuk melakukan hubungan seksual tidak ada artinya jika hubungan seksual tidak dilandasi oleh kesucian, kasih sayang dan ketulusan di antara pasangan. Justru, suasana hati yang suci, penuh kasih dan sayang serta ketulusan itu memegang peranan yang sangat besar anak yang akan dilahirkan selain cara mengasuh dan mendidik sang anak setelah lahir.
Pilihan waktu yang baik untuk melakukan hubungan seksual semata-mata untuk menyadarkan tentang betapa pentingnya menjaga kesucian hubungan seksual itu. Dengan senantiasa berlandaskan kesucian, ketulusan dan kasih sayang, hubungan seksual itu menjadi memiliki makna bagi kehidupan. (*)
Selasa, 19 Mei 2009
Sejak 2000 Tahun Lalu Orang Bali sudah Gunakan Produk Impor

PANDANGAN yang menyebutkan bahwa sikap hidup konsumtif dan hedonis orang Bali baru kali muncul ketika Bali mendapat sentuhan budaya global, terbantahkan. Berdasarkan temuan-temuan arkeologis, orang Bali ternyata sudah memiliki sikap hidup konsumtif dan hedonis sejak 2000 tahun silam. Bahkan, sudah pada abad ke-2 sebelum Masehi, orang Bali terbiasa menggunakan produk-produk impor dari Cina dan India.
Hal ini terungkap dalam seminar seri sastra, sosial dan budaya yang digelar Fakultas Sastra, Universitas Udayana (Unud), Jumat, 15 Mei 2009 lalu di gedung Widya Sabha Prof. Dr. IB Mantra, Kampus Jalan Pulau Nias, Denpasar. Tampil sebagai pembicara dalam seminar tersebut, Dekan Fakultas Sastra Unud, Prof. Dr. I Wayan Ardika, M.A., dan dosen Jurusan arkeologi Faksas Unud, Rochtri Agung Bawono, S.S.,M.Si.
Menurut Ardika, sudah sejak 2000 tahun lalu Bali terlibat dalam suatu perdagangan dunia/global, terutama dengan pedagang-pedagang Cina dan India. Berbagai tinggalan arkeologis di Bali menunjukkan hal itu, di antaranya ditemukannya nekara perunggu di Pejeng, miniatur nekara di sejumlah tempat, uang kepeng, serta benda-benda bekal kubur yang terdapat pada sejumlah sarkofagus.
"Bali menjadi tempat bertemunya dua kebudayaan besar yakni Cina dan India," kata Ardika.
Sementara Rochtri menyampaikan temuannya mengenai sarkofagus di Pangkung Paruk, Seririt Buleleng. Dalam sarkofagus itu ditemukan adanya kerangka manusia lengkap dengan benda-benda bekal kubur. Salah satu benda bekal kubur yang ditemukan yakni cermin perunggu yang diduga berasal dari Cina.
Rabu, 25 Maret 2009
Merawat Bumi dengan Nyepi
Catatan Hari Suci Nyepi
BERUNTUNGLAH Bali karena mewarisi tradisi Nyepi. Tradisi yang ditandai dengan penghentian segala aktivitas itu ternyata bukan semata sebagai ritus keagamaan yang kaya makna filosofis-spiritual, tetapi juga sebuah laku nyata merawat bumi.
Tengoklah, saat Nyepi manusia menghentikan aktivitasnya secara total. Tidak bekerja, tidak bepergian, tidak menyalakan api yang berarti menghemat energi, serta tidak menghibur diri. Alam dibiarkan beristirahat, bumi dibiarkan menikmati kebebasannya.
Sehari sebelumnya, manusia Bali melaksanakan ritus tawur kesanga. Sebuah ritual keagamaan yang sejatinya bermakna sebagai peringatan kepada manusia Bali untuk senantiasa ingat bahwa mereka berutang kepada bumi. Karena itu, mereka mestilah membayarnya lewat tawur. Karenanya, tawur mestilah dialirkan menjadi laku senyata-nyatanya menjaga dan merawat bumi.
Sepertinya, para tetua Bali di masa lalu bervisi dan berkesadaran universal utuh-menyeluruh. Bahwa alam ini adalah sahabat terpenting manusia. Manusia berhutang besar kepada alam, kepada bumi. Karena itu, manusia patutlah berterima kasih kepada alam.
Berterima kasih kepada alam itu kemudian dituangkan dalam aneka tradisi yang sarat makna jaga lingkungan. Mulai dari hari untuk mengucap syukur dan terima kasih kepada tumbuh-tumbuhan (Tumpek Pengatag), hewan (Tumpek Kandang), caru, tawur dan aneka tradisi kental visi berkesadaran lingkungan.
Puncaknya, manusia Bali diajak semakin menyelami ungkapan terima kasih kepada alam itu melalui Nyepi. Alam dibiarkan beristirahat, bebas dari segala eksploitasi manusia yang terkadang tanpa batas juga liar.
Ibarat mesin, alam ini memang perlu diistirahatkan. Bebannya perlu diringankan. Jika terus dipaksakan untuk bekerja menopang keinginan manusia yang terus membuncah, mesin itu bisa meledak, hancur dan mencelakakan manusia.
Manusia sendiri juga perlu istirahat. Tidak mungkin manusia bisa bekerja sepanjang hari penuh. Manusia perlu tidur, menutup mata untuk mengembalikan energi sehingga keesokan harinya bisa segar kembali. Orang yang tidak mendapat istirahat yang cukup akan kelihatan kusut, tidak bersemangat. Begitu juga alam. Jika tidak pernah diberikan kesempatan beristirahat, alam akan kelelahan, Ujung-ujungnya, alam tak bisa lagi menopang segala keinginan manusia. Bahkan, alam pun akan bereaksi logis yang berakibat pada gundahnya manusia.
Pemanasan global yang kini mengguncang dunia merupakan akibat dari alam yang tidak pernah diberikan kesempatan beristirahat. Milyaran penduduk dunia tiada henti mengeksploitasi bumi ini. Akibatnya, alam pun bereaksi logis, tatanan iklim menjadi berubah, cuaca menjadi kacau yang ujung-ujungnya memengaruhi kehidupan manusia. Sekali lagi, alam sedang bereaksi logis sesuai hukumnya. Alam tidak sedang marah, alam tidak sedang membalas dendam. Alam tidak mengenal marah, alam tidak mengenal dendam. Kitalah yang tidak bisa bersahabat dengan alam, kendati pun alam sudah memberikan segalanya kepada kita.
Karenanya, menawarkan tradisi Nyepi kepada dunia penting untuk dilakukan. Bukan untuk sebuah kebanggaan sebagai orang Bali, sebagai orang Hindu, tetapi tugas suci sebagai manusia yang mendiami bumi tercinta ini.
Mungkin tidak secara utuh tradisi Nyepi diadopsi karena tentu amatlah sulit bagi dunia untuk menghentikan aktivitas dalam sehari. Akan tetapi, setidaknya spirit utama Nyepi ditonjolkan yakni menahan diri dan hemat energi. Alangkah eloknya jika sehari kita tidak menggunakan bahan bakar dari fosil, semacam hari bebas bahan bakar fosil. Ini tentu akan sangat mebantu mengurangi emisi gas karbondioksida di udara.
[]
Selasa, 24 Maret 2009
Melasti dan Bayang-bayang Krisis Air Bali

SEJAK Minggu (22/3) lalu hingga Selasa (24/3) hari ini, umat Hindu di Bali melaksanakan upacara pemelastian sebagai rangkaian dari hari suci Nyepi tahun baru Saka 1931 yang jatuh pada Kamis (26/3) lusa. Umat berbondong-bondong mengarus menuju pantai, danau, sungai, atau pusat-pusat mata air lainnya. Inilah sebuah ritus sosio-religius perjalanan menuju air.
Ada banyak pendapat mengenai makna melasti. Namun, makna yang umum diketahui yakni sebagai proses penyucian alam makrokosmos bhuwana agung sehingga saat hari suci Nyepi, dunia sudah berada dalam kondisi suci, bersih. Sementara pada sehari menjelang Nyepi dilaksanakan tawur agung kesanga (sejenis upacara penyucian alam makrokosmos juga) yang diakhiri dengan upacara mabuu-buu serta mabyakala yakni upacara pembersihan diri (pemnbersihan alam mikrokosmos.
Namun, melasti sesungguhnya berasal dari kata me dan lasti. Lasti berarti tepi. Senyatanya melasti memang perjalanan menuju tepi pusat mata air: tepi laut, tepi danau, tepi sungai dan sejenisnya. Ini merupakan tradisi agraris yang mengingatkan manusia untuk senantiasa menjaga pusat-pusat mata air. Sebab, dalam keyakinan orang Bali, air adalah sumber kehidupan.
Agama orang Bali, sebelum diakui sebagai agama Hindu, dikenal dengan sebutan agama tirtha, agama air. Agama yang ritualnya diawali dan diakhiri dengan air suci (tirtha). Air menjadi pokok ritual keagamaan orang Bali.
Namun, ratusan tahun melasti dilaksanakan di Bali, bayang-bayang krisis air tetap saja menghantui. Tradisi ritual yang sarat pesan untuk merawat pusat-pusat mata air ternyata tak diikuti dengan kesadaran untuk menjaga sumber-sumber mata air Bali.
Karenanya, sudah saatnya melasti tidak semata dimaknai sebatas sebagai ritual religius dengan makna simbolis tetapi juga harus diresapi sebgai pesan kultural yang penting untuk mulai merawat dan melestarikan sumber-sumber air Bali. Hanya dengan begitu, Bali akan tetap menjadi tempat yang nyaman untuk ditinggali, tidak saja bagi manusia Bali, tetapi juga bagi agama tirtha, agama air, agama Hindu.
Selamat Hari Suci Nyepi tahun Baru Saka 1931!
Minggu, 21 Desember 2008
Ibu, Perawat dan Penjaga Kehidupan
* Catatan Hari Ibu
Kasih ibu kepada beta/
tak terhingga sepanjang masa/
hanya memberi tak harap kembali/
bagai sang Surya menyinari dunia// 
BERBAHAGIALAH mereka yang menjadi ibu. Lantaran kepada ibulah kehidupan ini berutang demikian besar. Karena ibu, kehidupan bisa terus mengalir. Ibu adalah perawat dan penjaga kehidupan.
-----------------------------
"APAKAH yang mampu menghidupi dan membesarkan lebih mulia daripada bumi ini?" Begitu selarik tanya dari Yaksa yang gaib kepada Yudistira tatkala berada di tepian sebuah telaga. Putra Kunti itu tengah meratapi jazad saudara-saudaranya, Bima, Arjuna, Nakula dan Sahadewa yang meninggal setelah meminum air telaga. Yudistira memohon agar saudara-saudaranya bisa dihidupkan kembali lalu Yaksa mensyaratkan Yudistira mesti bisa menjawab pertanyaan-pertanyaannya.
"Ibu. Beliaulah yang melahirkan dan membesarkan anak-anaknya lebih mulia dan lebih menghidupi daripada bumi ini." Begitu jawaban Yudistira yang ternyata dibenarkan Yaksa.
Percakapan antara Yudistira dan Yaksa ini kerap kali disodorkan ketika membincang kemuliaan ibu. Bahwa kemulian seorang ibu tiada bandingannya. Bahkan jika orang menyebut teramat mulianya bumi ini untuk merawat kehidupan, kemuliaan seorang ibu melampaui hal itu.
Seorang ibu memang sangat dekat dengan sifat tulus memelihara, ikhlas merawat, tegar menjaga serta tanpa pamrih melindungi. Seorang ibu akan merasa berdosa kepada anaknya jika tak mampu melaksanakan kewajiban mulianya itu.
Karena itu, bisa dipahami kemudian mengapa seorang Kunti dikejar-kejar perasaan berdosa sepanjang hidupnya karena telah membuang putra pertamanya, Karna. Kunti pun akhirnya menjalani "hukumannya" sepanjang hayat. Batinnya tersiksa, hatinya teriris-iris. Puncaknya, dia akhirnya harus kehilangan putra yang sejak lama dirindukannya itu. Tragisnya, Karna meninggal oleh anak panah adiknya sendiri, Arjuna. Mereka lahir dari rahim yang sama, rahim Kunti.
Bagi seorang anak, memiliki ibu adalah sebuah karunia sejati dalam hidup. Ibulah yang menjadikannya ada. Ibulah yang kemudian merawatnya dengan tulus hingga bisa menatap matahari dengan wajah tegak.
Maka, sepanjang hidupnya, seorang Karna yang agung senantiasa diusik kerinduan untuk bertemu ibu kandungnya. Kerinduan yang mewujud dalam mimpi-mimpi yang panjang. Perasaannya belum tenang jika belum mengetahui siapa ibu kandungnya.
Ada rasa dendam, memang, pada sang ibu yang telah menyia-nyiakannya ketika lahir. Namun, ketika mengetahui dan bertemu dengan Kunti, sang ibu kandung, toh akhirnya Karna tak bisa marah. Wajah ibu teramat menyejukkan, terlampau teduh. Betapa pun hati panas membara, di depan ibu, semuanya menjadi luluh.
Karenanya, berbahagialah mereka yang telah menjadi ibu. Seorang ibu tidak saja melahirkan anak-anak dari suaminya, tetapi lebih dari itu, seorang ibu telah menjadi sosok yang merawat dan menjaga kehidupan. Seorang ibu telah memaknai secara nyata bagaimana semestinya mencintai kehidupan ini dengan tulus dan bagaimana berkorban tanpa pamrih bagi kehidupan.
Sampai di sini bisa dipahami mengapa kemudian seorang perempuan lebih dihargai ketika melakoni tugas mulia sebagai seorang Ibu. Karena, menjadi ibu adalah puncak pencapaian dari perjalanan panjang seorang perempuan. Seperti halnya puncak pencapaian seorang laki-laki saat menjadi ayah. Lantaran, pada titik itulah kontribusi nyata bagi kehidupan. Selamat Hari Ibu!



